Muslim Forever

Demi Masa

Tuesday, November 15, 2011

UJIAN HIDUP ADALAH SUNNATULLAH

“ Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata : ‘kami beriman’, padahal mereka belum di uji. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah betul-betul mengetahui orang yang benar, dan sesungguhnya Ia betul-betul mengetahui orang-orang yang berdusta “ (QS. Al- Ankabut :2,3)
Pemahaman terhadap ujian dan hakekat kehidupan juga sangat perlu dimiliki oleh mereka yang merasa dan mengaku diri sebagai muslim dan mukmin. Sebab keimanan itu tidak diakui begitu saja sebelum terbukti lulus ujian, seperti dalam firman Allah Swt tersebut diatas.
Beratnya ujian sesuai dengan bobot kualitas seseorang. Manakala imannya kuat, maka beban ujiannya juga berat. Dan yang paling berat ujiannya adalah para nabi. Rasulullah Saw bersabda : “ Manusia yang (menghadapi) cobaan paling berat adalah para nabi, kemudian orang-orang yang shalih, kemudian yang berikutnya. Seseorang mendapatkan ujian sesuai dengan tingkat keagamaannya. Bila agamanya kuatakan bertambah ujian baginya “ ( HR. Bukhari ).
Macam-macam ujian :
Ad-dunia darul bala’wal mihan (dunia tempat ujian dan cobaan). Kalau kita perhatikan memang hidup ini berisi ujian (ibtila’) baik itu ibtila’ bil khair (ujian yang berbentuk kenikmatan) maupun ibtila’ bin bisyar (cobaan berupa keburukan). Untuk memahami bentuk ujian yang ada di sekitar kita, dibawah ini disebutkan beberapa diantaranya :
Penderitaan
Tekanan dan penderitaan hidup merupakan salah satu bentuk ujian bagi keimanan seseorang. Betapa kita melihat sementar orang yang mengeluh karena kesulitan-kesulitan yang ia hadapi. Oleh karena itu ketegaran dan keteguhan hati sangat diperlukan.
Namun demikian, para sahabat yang menyaksikan betapa beratnya penderitaan yang menimpa mereka mencoba menghadap Rasulullah Saw mengusulkan agar beliau memohon kepada Allah Swt untuk meringankan derita yang menimpa sahabat mereka. Mereka khawatir kalau-kalau keimanan para sahabat yang disiksa itu berubah.
Tapi Rasulullah Saw menanggapi hal itu dengan tenang dan bersabda : “ Sesungguhnya umat sebelum kalian menghadapi siksaan yang lebih berat dari itu, diantara mereka ada yang digergaji hingga terbelah badannya, mereka tidak bergeser dari keyakinannya, mereka juga ada yang disisir dengan cakar dari besi hingga terkelupas daging dari tulangnya, namun mereka tetap kokoh dengan aqidahnya. Demi Allah! Allah pasti akan menyempurnakan urusan (agama) ini, sehingga seorang pengembara dapat dengan aman berjalan dari Shan’a (Yaman) ke Hadharamaut, ia tidak takut kecuali kepada Allah dan (khawatir) kepada srigala (yang mengancam) kambingnya, tapi (sayang) kalian (terlalu) terburu-buru “. (HR. Bukhari).
Keluarga dan Anak
Idealnya keluarga diharapkan dapat memberikan kesejukan, ketentraman dan kasih sayang yang mendukung berjalannya tugas manusia sebagai hamba Allah Swt, demikian juga anak. Namun tidak sedikit kita saksikan dalam realitas sosial tidak demikian, bahkan anak dan istri menjadi kendala dalam kehidupan.
Idealitas dan hamasah (semangat) yang tadinya menyala sedemikian rupa meredup, ruhul jihad dan hubbud da’wah sirna hanya karena pengaruh keluarga tadi. “ Otang-orang Arab yang tidak ikut berjuang berkata : Harta dan keluarga kami telah menghalangi kami “ 9 QS. Al-Fath : 11).
“ Wahai Rabb kami, anugerahkanlahkepada kami istri dan keturunan sebagai penyejuk mata hati (kami), dan jadikanlah kami iman bagi orang-orang yang bertaqwa “ ( QS. Al-Furqan : 74)
Harta
Mal (harta) merupakan salah satu unsure kekuatan yang digunakan sebagai penyangga gerak laku dakwah Islamiyah. Jadi harta dimanfaatkan dan dikendalikan untuk mendukung tugas ibadah kepada Allah Swt. Namun, dalam kenyataannya kita melihat tidak sedikit orang yang diperbudak oleh hartanya. Memang harta bisa menjadikan fitnah hidup.
Harta dunia bukan tujuan, tapi sarana yang tidak dilupakan. Firman Allah Swt : “ Dan carilah apa yang Allah karuniakan kepadamu dari kehidupan akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia “ (QS. Al-Qashash : 77 ). Manakala harta ditempatkan buka pada tempatnya, maka berarti ia terserang penyakit Wahn yaitu terlalu mencintai dunia dan takut menghadapi resiko. Itulah awal kehancuran imannya. Naudzubillah.
Syakhshiyah (Kepribadian)
Manusia di antara satu denga lainnya ada kelebihan dan kekurangannya. Keutamaan yang diterima seseorang tidak boleh menjadikan angkuh dan sombong, demikian pula kekurangannya tidak membawanya kepada kecil hati dan merasa hina. Pada hakekatnya kesemuanya itu berasal dari Allah Yang Maha Kuasa.
Nami Sulaiman As ketika merasakan bahwa dirinya dikaruniai Allah kekuasaan dan kemampuan untuk mengendalikan manusia, jin dan hewan.
Keterasingan Aqidah
Pergeseran nilai di tengah-tengah masyarakat karena gencarnya ghazwul fikri yang didukung sarana canggih. Di samping kelemahan daya tahan imani kaum muslimin menjadikan orang0orang yang istiqamah terasing. Mereka dianggap aneh, bahkan julukan-julukan menyesatkan diarahkan kepada mereka, seperti : ekstrem, fundamentalis, kolot, puritan, terbelakang, tidak intelek, anti modernisasi dan ungkapan-ungkapan tak berharga lainnya.
Bagi mereka yang berimanannya lemah akan goyah dengan hembusan angin fitnah. Tapi muslim yang mustaqim, mempunyai pemahaman Islam yang syamil dan kamil (utuh dan menyeluruh), baginya tidaklah mengapa, sebab ia memahami hadits Rasulullah Saw : “ Sesungguhnya Islam itu bermula dalam keadaan asing, dan akn kembali menjadi asing sebagaiman semula. Maka berbagagialah orang-orang yang asing (karena aqidahnya) “. (HR. Muslim).
Dalam riwayat lain diterangkan, ghuraba’ itu adalah orang yang senantiasa berbuat baik ketika orang lain berbuat kerusakan. Artinya mereka tetap beriltizam (komited) kepada nilai-nilai dan prinsip Islam walau lingkungannya rusak

Oleh : Drs. M. Abdul Muis, Lc (LKIK)

No comments:

Post a Comment